do not piracy!

do not piracy!
this blog is my creativity
Tampilkan postingan dengan label DreamBelieve. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DreamBelieve. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

catatan : 7 Februari 2014 - Kampung Fiksi dalam J50K

Kamu tidak diizinkan untuk menyesal demi sebuah karya...

**
Tiga tahun lalu, tepat setelah saya berhenti menghasilkan karya selama hampir dua tahun, saya mengenal Kampung Fiksi kali pertama, lewat sebuah promosi event menulis berjudul : J50K. Sebuah tantangan untuk menghasilkan draft karya sepanjang 50ribu kata selama bulan Januari. Dan saya kembali menyusun naskah impian saya.
--

Selasa, 04 Februari 2014

novela : 4 Februari 2014

pagi ini
empat tahun yang lalu
ah...
kamar operasi itu benar-benar membuatku...
bagaimana mengatakannya...


Senin, 02 Desember 2013

novela : 2 Desember 2013

Langit berawan kelabu, matahari tak tampak sinarannya. Ini hari kesekian dalam beberapa minggu terakhir, dimana sulit sekali mendapatkan cerah untuk sedikit mencuplik semangat hari baru. Semuanya berwarna sendu, terlebih jika gerimis datang bersama di awal pagi. Mengangkat tubuh dari pembaringan serasa menghadapi puluhan karung beras yang berkwintal-kwintal.

Hanya saja hari ini sudah ada rencana yang tercatat di kalender, sebuah pesan singkat yang digoreskan Tasya saat kali terakhir dia berkunjung kemari liburan semester yang lalu.

"Kamu harus jemput aku di bandara, sebelumnya jangan lupa masakkan aku makaroni panggang buatanmu. Terus dari bandara, kamu harus antar aku ke rumah Adit, dia harus tahu aku serius dengan hubungan jarak jauh ini." Tasya melingkari angka dua pada bulan Desember kalender mejaku sambil terus bicara tentang banyak hal antara dirinya dan Adit.

Jumat, 22 November 2013

catatan : 22 November 2013

Ah, ternyata skip beberapa hari, tapi lumayan idenya tetap tersimpan baik. lalu kemana saja beberapa hari kemarin?
aku sedang dalam persiapan menyusun draft untuk cerita dalam proyek J50K 2014 nanti.
Sebuah cerita yang berbeda, dengan gaya penulisan cerpen. 
Sedikit menguras ide, dan lebih lagi aku harus mengerjakan sampul dari buku a big wish with Diana Rikasari yang mauku jadi kado ulang tahun untuk Diana Riaksari, semoga saja bisa.
Aih.... kenapa jadi terdengar sok sibuk? tapi tak apa. 
hanya saja aku belum mendapatkan banyak komentar untuk tulisan-tulisanku di blog ini.
Ada yang punya ide bagaimana supaya semua orang yang mampir menampilkan komentar?
Eh, untuk sepuluh hari ke-3, aku mau menulis cerita yang sedikit berbeda. Terinspirasi dari Agnes Monica awalnya, dan ini adalah draft yang berbeda untuk naskah yang belum aku selesaikan sama sekali.
Tapi dengan mengikuti terus penampilan Anastasia Siantar di halamannya, mungkin akan menjadikan cerita ini berbeda.
Sudah dulu ya....
Selamat membaca...


Salam
*ephy*

Minggu, 14 Juli 2013

novela : 14 Juli 2013 [ Mawar - mawar Fa ]

Tapi kali ini jadi tidak begitu hangat, karena sejak semalam tidak satu kuncup mawar pun yang siap untuk mekar. Henna berbisik padaku tentang apa yang terjadi diluar jangkauanku. Dan Sya menemaniku malam ini, berbicara pada langit, bintang, dan awan agar selalu mendukung bumi.

“Fa, ini bukan masalah sederhana.” Tanah kompos dalam genggamanku berbisik dengan kelembaban yang sejuk mengalir di permukaan kulitku.

“Masalah sederhana katanya, masalah-masalah yang selalu saja manusia sepelekan dengan mengabaikan bahkan sampai tidak mensyukuri apa yang telah Allah berikan melalui kami.” Aroma kuncup mawar dihadapanku menyampaikan rasa hatinya bersama hangat selimut yang disalutkan Sya di pundakku.

Sabtu, 13 Juli 2013

novela : 13 Juli 2013 [ Mawar-mawar Fa ]

Siapa yang bisa mengingkari kalau manusia senyatanya adalah mahluk sosial, individu yang mandiri namun saling terikat dan membutuhkan satu jasad dengan jasad lainnya. Tanpa pernah mau mengakuinya dengan jujur, seperti itulah yang aku baca, dari apa yang dituliskan Sya dalam suratnya. Surat-surat yang berisikan banyak cerita tentang kehidupannya di tengah lautan yang mengasingkannya dari dunia yang dicintainya setulus hati. Menjauhkannya dari aku, bunda, juga hijaunya taman mawar yang jadi kebanggaan kami. 

Ya, Sya mungkin memang harus jauh dari aku, tapi hati kami saling terpaut dimana pun kami berdiri. Saat langit cerah atau berawan, mereka semua akan menyampaikan kabar diantara kami, lewat bisikan angin atau awan-awan yang melukiskan suasana dan perasaan hati kami saat itu.

Kamis, 11 Juli 2013

catatan dan novela : 11 Juli 2013

dream again....

apa yang terjadi jika mimpimu terasa nyata, seperti menyentuh kulitmu?


Kamis, 20 Juni 2013

novela : Malika [ mimpi ke-5 ]

Hingga satu hari, di tahun kedua pernikahan mereka. Malika mengiriminya sebuah pesan bergambar. 
...


Malika duduk diam menghadapi laptop dihadapannya, disalah satu sudut yang ia suka sebagai tempat untuk menuangkan ceritanya. ia memilih kata yang tumpah ruah di rongga dadanya, setelah beberapa hari tenggorokannya seperti tercekat setiap kali memandang wajah Ghani yang merindukannya, merindukan Malika disisinya.

Akhirnya Malika mulai menarikan jemarinya diatas tombol huruf-huruf dan merangkaikan kata untuk Ghani, itu yang selalu dilakukannya, berbagi cerita pada Ghani lewat surel.

Rabu, 19 Juni 2013

novela : Malika [ mimpi ke-4 ]

Ghani, lelaki, suami, dan seorang yang baru dikehidupan Malika. Dia harus membiasakan diri dengan keberadaan Malika, seorang istri yang hanya muncul saat sore menjelang hingga matahari naik sepenggalah. Perempuan yang bahkan selalu menyempatkan diri untuk mengambil alih pekerjaan pelayannya, walau itu hanya sekadar mengadukkan gula dalam cangkir tehnya. Malika yang menentukan, segala yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan terhadapnya, terhadap jasadnya. Dan kuncinya hanya satu, Ghani tidak boleh meragu, atau dia akan terus saja menangis saat kembali mengeja perjanjian yang telah disepakatinya dengan Malika.

Ketika pernikahan itu terikat sebuah perjanjian, mereka pasti bertanya, apakah ada kebahagiaan?

Selasa, 18 Juni 2013

novela : Malika [ mimpi ke-3 ]

...

Malika membiarkan dirinya terkunci dalam pelukan sang lelaki, ia telah melaksanakan kewajibannya malam tadi, sebagai seorang istri. Dan dalam heningnya pagi, Malika kembali merapikan diri. Air dingin bahkan tak bisa mengalahkan kehangatan yang memeluk jasad indah itu, Malika membiarkan wajahnya basah hingga ujung jemari kakinya yang menari mengikuti senandung dalam hatinya.

Busana Malika adalah ketulusannya, ia bahkan tidak pernah bermewah-mewah dalam penampilannya sekalipun ia mampu melakukannya. Pilihannya pagi ini jatuh pada kemeja satin berwarna langit cerah, dengan padanan celana panjang dan blazer yang sepadan dengan kemejanya. Malika hanya menggulung rambutnya dalam jaring rambut berhias pita biru. Bahkan Malika memutuskan tidak mewarna pipi ataupun kelopak matanya.

Senin, 17 Juni 2013

novela : Malika [ mimpi ke-2 ]

...

Malika adalah pusat perhatian, kecantikannya, keramahannya, dan juga pilihannya untuk duduk di pelaminan sendiri. Mereka belum pernah menemukan pesta pernikahan yang seperti itu. Sepanjang acara tak sekali pun Ghani menghampiri Malika, mereka seakan memiliki dunianya masing-masing. Terpisah namun serasi dalam nuansa kemewahan yang dirancang Malika, demi seorang Ghani.

Malam larut, dan pesta berakhir. Semua tamu sudah pulang, hening kembali pada ruang antara Malika dan Ghani yang sekarang tengah duduk berdua saja. Rumah besar dan mewah milik Ghani menjadi bingkai kebersamaan mereka malam ini. Anak tunggal Ghani, Haydn Ahsan dipulangkan kerumah sang kakek. Malika mamilih untuk menolak tawaran Ghani berbulan madu di luar kota, ia tidak ingin pernikahannya menjadi milik orang lain, hanya itu alasannya.

Ghani memandang wajah wanita cantik dihadapannya, Malika sedang membersihkan sisa perona bibirnya. Warna peach bibir Malika tampak menggoda untuk dikulum, Ghani masih harus bersabar, karena Malika masih belum beranjak dari duduknya.

Minggu, 16 Juni 2013

novela : Malika [mimpi pertama]

Matanya yang jernih adalah salah satu penjelasan tentang keindahan dirinya. Ya, perempuan cantik itu bernama Malika. Seorang istri pengusaha kaya, yang memilih tinggal di sebuah rumah sederhana, hasil rancangannya. 

Malika dan Ghani bertemu dalam sebuah presentasi karya, projek pembangunan kondominium milik perusahaan properti keluarga Ghani. Perempuan itu memikat hati Ghani sejak kali pertama ia menyapanya dengan salam yang sangat santun, satu senyuman, tak saling bersentuhan tangan.

Usai presentasi hari itu, Ghani mengundang Malika duduk di meja makannya, dan menuliskan sebuah kalimat dibelakang kartu nama eksklusif  yang tidak pernah dibagikan pada sembarang orang.